He’s Just Not That Into You

October 10th, 2009 by riffabanget

It sounds hurt but true: lebih banyak cewek daripada cowok yang dibodohi atas nama cinta. Lebih buruk lagi, kita para cewek sering kali menyangkal bahwa pada dasarnya kita hanya sedang dibodohi. Kita tidak bisa berhenti bersikap naïf, sok bijak dengan selalu berpikiran positif, dan yang paling buruk, kita menaruh harapan terlalu tinggi terdahap seseorang yang sebetulnya tidak benar-benar mencintai kita.

Sebetulnya gue bukan penggemar buku psikologi soal cinta-cintaan. Tapi karena suka sama filmnya, gue mulai tertarik baca buku yang berjudul He’s Just Not That Into You. Gue pun mulai membaca… dan seperti biasa, gue menandai bagian yang gue sukai dengan cara melipat ujung halamannya. Dan ternyata… ada begitu banyak halaman yang gue beri tanda lipat!

 

Jujur ya… gue ngerasa ditampar keras sama buku terjemahan yang dahsyat ini. Gue pikir selama ini gue udah cukup pintar, cukup pemilih, serta cukup cerdas dalam mengambil keputusan… Tapi ternyata, gue juga sering banget dibodohi atas nama cinta.

 

Nah, dalam kesempatan kali ini gue akan menuliskan dengan jujur bagian-bagian dari buku ini yang gue anggap menarik dan gue banget. Buat cewek-cewek, siap-siap ngerasa kaget, dan buat cowok-cowok, mohon maaf kalau elo merasa tersindir dengan tulisan gue ini.

 

  1. Jangan biarkan kata-kata ‘honey’ dan ‘baby’ menipu anda.
  2. Seorang pria tidak benar-benar menyukai anda kalau dia tidak menelepon anda. So girls, berhenti berpikir: sinyal hp lagi error, dia nggak punya pulsa, dia lagi sakit atau sibuk, atau yang paling konyol: hp-nya dijambret orang!
  3. “Bolehkah seorang pria lupa menelepon saya?” Jawabannya, “Tidak.”
  4. Menelepon saat anda berjanji adalah batu bata pertama dari rumah cinta yang anda bangun.
  5. Pria yang baik akan menggunakan telepon. E-mail tidak berlaku (termasuk menurut gue, comment di Facebook juga tidak berlaku:)
  6. Pria tidak pernah terlalu sibuk untuk mendapatkan keinginan mereka. Dan, pria tidak pernah terlalu sibuk untuk menelepon wanita yang benar-benar mereka sukai.
  7. Jangan menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak menepati janji. Jadi, jangan pernah berkencan dengan seseorang yang membuat anda menunggu-nunggu telepon darinya.
  8. Seorang pria berkata, “Rasa takut terhadap kedekatan cuma mitos belaka. Itulah yang kami katakan pada wanita ketika kami tidak benar-benar mencintai mereka.”
  9. ‘Tidak ingin merusak persahabatan’ hanyalah akal bulus.
  10. Pada akhirnya, pria pasti berani mengajak kencan seorang wanita yang berstatus lebih tinggi jika dia benar-benar tertarik pada wanita itu.
  11. Orang lain memberi tahu anda siapa dia yang sebenarnya setiap saat. Jadi ketika dia berkata bahwa dia tidak bisa bermonogami, maka anda harus mempercayainya.
  12. Orang yang berselingkuh adalah orang yang punya banyak masalah dan mereka berusaha menyelesaikannya dengan menghancurkan hati anda.
  13. Cowok badung itu brengsek karena mereka menyusahkan, hanya sedikit menghargai diri sendiri, banyak memendam amarah, banyak membenci diri sendiri, serta benar-benar tidak percaya terhadap segala bentuk hubungan percintaan yang penuh kasih sayang.
  14. Seorang pria tidak benar-benar mencintai andai jika dia menghilang dari hidup anda.
  15. Inilah yang dia lakukan selama masa vakum hubungan anda: dia mengendus sekelilingnya untuk mencari orang lain yang lebih baik dari anda, dan jika dia tidak menemukannya, dia merasa kesepian sehingga dia terpaksa kembali ke ‘rumahnya’.
  16. Satu-satunya alasan kenapa dia merindukan anda adalah karena dia sendiri yang lebih memilih untuk tidak memilih anda.
  17. Bila anda tidak bisa mencintai dengan bebas, itu namanya bukan cinta.
  18. Hidup sudah cukup berat tanpa harus memilih seseorang yang bermasalah untuk berbagi hidup.
  19. Saya tidak akan berkencan dengan pria yang membuat saya merasa tidak diinginkan secara fisik.
  20. Pria lebih memilih dilindas gajah daripada memberitahu bahwa dia tidak serius dengan anda. Malah buat yang udah pernah pacaran, cowok lebih memilih memancing pertengkaran hebat daripada minta putus secara langsung!
  21. Binatang peliharaan adalah cara Tuhan untuk berkata kepada anda, “Jangan turunkan standar hanya karena merasa kesepian.”

 

Setelah baca buku ini, gue mulai berbesar hati untuk menerima bahwa pada dasarnya, cowok-cowok itu emang enggak bener-bener suka sama gue. Bukan karena kelulusan, bukan karena jarak jauh, bukan karena dia sibuk kuliah kedokteran, bukan karena dia minder dengan prestasi gue, bukan karena perbedaan besar di antara gue dan dia, bukan karena tidak ingin merusak persahabatan, dan bukan pula karena suatu masa lalu yang sangat sulit untuk ditinggalkan.

 

Intinya jangan pernah takut untuk mengakui bahwa faktanya, dia tidak beanr-benar mencintai kita. Jangan pula merasa rendah diri hanya karena kita ini bukan tipenya dia. Kita juga berhak kok, menetukan tipe cowok idaman yang kita inginkan. Kalau kita tega menolak cinta seorang cowok, kita juga harus berbesar hati kalau gantian kita yang ditolak sama mereka.

 

Jadi daripada buang-buang waktu buat cowok yang enggak benar-benar cinta sama kita, lebih baik kita nikmati hidup sampai nanti kita menemukan seseorang yang mencintai kita dengan layak. Dan jangan lupa, kita BERHAK untuk dicintai secara layak

Limit of Having Nothing to Loose

October 2nd, 2009 by riffabanget

 

Tahu artinya nothing too loose? Sebuah sikap mental di mana kita merasa kelak tidak akan terpuruk karena kehilangan sesuatu yang pergi atau lepas dari genggaman. Dengan bersikap nothing to loose, kita tidak akan berlama-lama meratapi suatu kegagalan. Hebatnya lagi, kita juga tidak akan merasa terlalu sakit untuk menerima kegagalan itu. Hebatnya lagi, sikap ini bisa membuat kita menjalani hidup dengan lebih santai dan tanpa beban.

 

Hari ini untuk ke sejuta kalinya, gue ngerasa jenuh dan sebal dengan pekerjaan gue. Sepagian kerjaan gue cuma sesekali nelepon klien dan kirim e-mail, lalu sisanya cuma duduk santai, browsing, chatting sama teman, atau ngobrol-ngorbol sama teman-teman sesama auditor. Akibatnya, menjelang sore gue baru mulai pontang-panting nyariin klien. Padahal jam segitu itu udah waktuntya klien bersiap pulang.

 

Untunglah urusan dengan klien berakhir cukup beres untuk hari ini. Tapi bukan berarti pekerjaan gue udah selesai… Masih ada setumpuk dokumen yang harus gue tuntaskan hari ini juga.

 

Ternyata oh ternyata… rasa bete dalam diri gue justru menggila. Pusing ngelihat meja berantakan, sebel ngelihat working paper lecek dan kumel, belum lagi stationery gue jatuh-jatuhan melulu… Gue ngerasa kepala gue udah sangat panas sehingga bawaannya pengen cepet-cepet kabur dari kantor klien.

 

Akhirnya jam 5.30 teng, gue putuskan untuk menyerah. I tried to convince myself that the job can wait until Monday. Screw the job, gue ajak Arleen, temen gue untuk ninggalin kerjaan lalu pergi nonton ke Planet Hollywood. Kita di sana bukan cuma nonton satu film, melainkan nonton dua film berturut-turut.

 

Jujur selama duduk di dalam bioskop gue tidak memikirkan unfinished job itu sama sekali. Film pertama lucu, dan film ke dua lumayan seru… gue benar-benar tenggelam di dalam cerita. Lagipula sebenarnya, dalam ahti gue tidak lagi  memiliki rasa takut atas terbengkalainya pekerjaan gue sendiri. Yup… gue bersikap nothing to loose dalam urusan pekerjaan gue di perusahaan ini.

 

Entah sejak kapan, gue enggak pernah lagi ambil pusing sama tingkah laku senior dan manajer gue. Gue bahkan mulai berani menanggapi omongan menyebalkan dari salah satu senior dengan sikap jenaka yang pada akhirnya malah mengundang tawa. Gue ngerasa, menjalani pekerjaan yang gue anggap membosankan ini aja sudah cukup berat, jadi ngepain juga gue nambahin beban dengan terus-terusan mikirin pendapat atasan tentang gue?

 

Jeleknya, gue juga semakin cuek saat menjalani kewajiban gue di kantor ini. Kerja seadanya, suka menunda-nunda, males nanya-nanya terlalu detail ke pihak klien, males pula sering-sering diskusi tentang kerjaan sama para senior… Karena jujur di dalam hati gue ngerasa, toh masih banyak perusahaan bonafid di luar sana. I’m not gonna die just because of loosing this job right?

 

Selesai nonton film, gue nungguin Arleen dapet taksi untuk nganter dia sampe tempat kosnya. Setelah dia dapet taksi, gue langsung naik bis menuju Cawang untuk nanti sambung lagi naik angkot menuju rumah tante di Kali Malang.

 

Saat sudah duduk manis di dalam bis, barulah gue teringat sama tanggung jawab gue. Kerjaan ini harusnya udah selesai satu minggu yang lalu. Sungguh lucu gue bersikap santai begini hanya karena toh bukan cuma gue yang pekerjaannya belum selesai. Padahal dalam engagement sebelumnya, gue pernah membereskan pekerjaan gue seminggu lebih cepat daripada teman-teman lainnya. Saat mereka masih sibuk minta data ke klien, gue malah udah beres-beres dan mengembalikan semua data kepada klien.

 

Sampai sini gue baru mulai ngerasa bersalah. It’s definitely not me. I have to do the things those I can do today rather than waiting for tomorrow. Akhirnya secara spontan gue memutuskan untuk turun di kantor klien di daerah Pancoran. Gue  balik lagi ke dalam ruangan untuk membereskan beberapa pekerjaan yang masih harus dikerjakan, lalu membawa pulang beberapa dokumen untuk diteruskan di rumah besok.

 

Setelah pekerjaan beres, gue pulang ke rumah dengan dua tumpuk dokumen untuk diperiksa. Dalam perjalanan pulang itu, gue mulai mengambil suatu kesimpulan baru… bersikap nothing too loose pun ada batasannya.

 

Nothing too loose bisa menjadi excuse untuk kita bersikap malas dan tidak bertanggung jawab. Sikap ini juga membuat kita menganggap enteng suatu hal serta tidak menghargai dan mensyukuri segala sesuatunya. Nothing too loose pada akhirnya bisa membuat kita menjelma menjadi looser ataupun quitter.

 

In this point, I realize that I need to stop taking my job for granted. Memang benar masih banyak perusahaan bonafid lain di luar sana. Tapi di perusahaan ini, gue punya tanggung jawab, punya kewajiban, punya begitu banyak hal untuk dikerjakan sebaik-baiknya. I’ve lost several things in my life, BUT, I have never been a looser in my whole life. Jadi kenapa gue harus merusak sejarah hidup gue dengan menjelma menjadi orang yang tidak bertanggung jawab?

 

Hidup itu suatu pilihan. Gue menyadari sepenuhnya bahwa gue pun punya pilihan untuk pergi jauh dari perusahaan ini. Akan tetapi, setelah memmperhitungkan plus minus untuk karier masa depan, gue memutuskan untuk tidak cepat-cepat angkat kakidari perusahaan ini. Jadi karena gue udah memilih untuk bertahan sementara waktu, maka gue harus rela menghadapi hal-hal tidak menyenangkan atas pilihan yang gue buat itu.

 

Lain kali pasti gue akan merasa bosan lagi, kesal lagi, panas dan ngomel-ngomel lagi… Dan bila itu terjadi lagi, mungkin yang gue butuhkan hanya pergi sebentar untuk nonton film atau pergi berbelanja untuk menjenihkan pikiranJ

 

Akhir kata, I want to thank God for making this weekend not too bad for me. Hopefully next week will be much much much better than this. Have a ncie weekend!

One Night in My Dream

September 29th, 2009 by riffabanget

 

Tiba-tiba gue teringat sama tulisan yang pernah gue buat beberapa bulan yang lalu, yang bercerita tentang isi mimpi gue satu malam sebelum itu. Boleh dibilang, mimpi itu pernah sangat mempengaruhi kehidupan gue berbulan-bulan yang lalu. Karena mimpi itu, gue membulatkan tekad untuk mengambil keputusan besar yang sebetulnya, mengambil keputusan itu sama dengan menelan sebuah pil pahit. Berikut isi dari mimpi yang istimewa itu …

 

Malam itu gue bermimpi lagi nonton film Korea yang bercerita tentang kehidupan gue. Tokoh gue diperanin sama artis Korea yang imut dan cantik banget. Terus kita sebut aja SCD si tokoh utama cowok yang dalam kehidupan nyata, dia itu temen cowok yang saat itu sedang dekat sama gue. Si SCD ini juga diperanin sama aktor Korea yang ganteng banget.

 

Jadi ceritanya gue dan SCD udah cukup lama berteman dekat. We are happy for being together. Akan tetapi, ada sesuatu yang bikin gue sama SCD mustahil buat bisa jadian. Awalnya gue coba nikmati apa adanya, tapi lama-lama gue mulai ngerasa capek sehingga mulai mempertanyakan masa depan hubungan gue dengan SCD. Dan yang bikin gue tambah kesel, kenapa keliatannya cuma gue yang pusing sendirian? Malah bisa-bisanya si SCD nyengir kuda di kala gue lagi cemberut memikirkan nasib.

 

Sampai suatu hari (mulai dari sini asli fiktif belaka) muncul seorang cowok ganteng, seorang eksekutif yang sukses di usia muda, yang tiba-tiba datang menghampiri gue. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba dia minta gue jadi pacarnya! Dia bilang pura-pura dulu juga enggak papa. Karena kaget, yang ada gue malah bengong dan nggak bisa ngomong apa-apa. Lalu… untuk membuktikan kalo kita berdua udah jadian, si cowok itu ceritanya nyium gue gitu… *Sumpah lho, ini cuma mimpi, gue cuma menceritakan ulang kejadian dalam mimpi gue itu, hehe…*

 

Gue tambah kaget dan dalam keadaan syok gue bertanya, kenapa bisa dia minta gue jadi pacarnya padahal dia kan baru aja kenal sama gue?

 

Terus eksmud ganteng itu bilang, sebenernya dulu gue udah pernah ketemu muka sama dia. Cuma masalahnya, waktu pertama ketemu itu gue lagi berduaan sama SCD, dan waktu itu si eksmud ganteng malah asyik ngobrol sama SCD sambil sesekali ngelirik ke arah gue. Jadi ceritanya, semenjak pertemuan pertama itulah si eksmud ganteng jadi suka memantau kehidupan gue sehari-hari… Sweet banget kan, hehe…

 

Lalu tiba-tiba, SCD panik ngelihat gue yang mulai terpesona sama eksmud yang ganteng itu. Setting film berubah jadi sebuah bandara yang keren banget (yang jelas bukan Bandara Soekarno-Hatta yang biasa banget itu:). Ceritanya si eksmud ganteng memberikan gue pilihan untuk ikut atau enggak ikut dia masuk ke dalam Gate. Waktu gue baru masuk beberapa langkah, SCD datang mengejar dan meminta gue untuk jangan pergi. Dia berdiri di luar Gate dengan tatapan yang penuh dengan penyesalan.

 

Gue pun semakin bingung… Tapi setelah gue pikir-pikir, gue tersentuh banget sama cara si eksmud ganteng yang selalu memperlakukan gue seperti seorang puteri. Dia juga keliatannya sayaaanng… banget sama gue. Jauh beda sama SCD yang suka enggak peka sama perasaan gue. Akhirnya gue membuat pilihan untuk ikut sama si eksmud ganteng masuk ke dalam Gate.

 

Layar berubah menjadi gelap, dan film itu diakhiri dengan sebuah kalimat, “Seringkali, kita harus belajar mencintai orang yang tidak kita duga.”

 

The end.

Life is NOT a Fairy Tale

September 9th, 2009 by riffabanget

 

 

Hidup tidak akan pernah berakhir sama dengan kisah Cinderella. Tidak akan pernah ada pangeran berkuda putih yang datang ke kastil untuk menyelamatkan kita, menikahi kita, lalu hidup bahagia selama-lamanya. Happily ever after will never exist in a real life.

 

Sebetulnya, udah sejak lama gue mendengar nasehat sebagaimana tertulis di paragraf satu. Kita harus belajar hidup realistis, berhenti bersikap naïf, tumbuh dewasa dan bersikap tangguh menjalani kehidupan. Kedengarannya simpel, tapi jelas bukan hal yang mudah untuk merealisasikannya.

 

Dalam kehidupan pribadi, teori ini gue terapkan dengan cara tidak menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain. Gue percaya segala kebahagiaan terletak di genggaman tangan gue sendiri. Gue udah berhenti berpikir, “Gue akan bahagia kalo gue udah punya pacar,” atau, “Gue akan bahagia seandainya gue punya sahabat yang lebih dewasa, lebih bijak, lebih pengertian…” atau, “Hidup gue akan lebih indah seandainya gue punya keluarga yang lebih kompak dan tidak egois.”

 

I simply think that I am happy with my own life. Gue menyadari bahwa gue tidak bisa memilih orang-orang yang bisa gue jadikan keluarga. Gue menyadari bahwa mau dicari sampai ke ujung dunia pun, gue tidak akan menemukan sahabat yang 100% sempurna. Dan yang paling penting, gue menyadari bahwa punya pacar sudah pasti akan mengubah dunia gue, TAPI, hal itu tidak akan membuat gue bahagia sampai akhir hayat. Tidak ada hubungan yang sempurna di dunia ini, dan, tidak ada cinta yang sempurna dalam kehidupan kita.

Lalu belakangan ini, gue belajar lebih banyak tentang hidup di dunia nyata. Gue belajar bahwa…

  1. SEMUA orang yang dekat dengan kita, entah itu keluarga, sahabat, atau pasangan hidup, suatu kali dalam hidupnya, akan pernah merasa jenuh dengan kedekatan mereka dengan kita. They will think they need a space for their own. Akan tetapi, percayalah bahwa itu nggak berarti mereka nggak cinta sama kita lagi. Maka sebaliknya, jangan menyalahkan diri sendiri jika justru kita yang merasa jenuh dalam suatu hubungan. Kejenuhan itu hanya suatu fase, yang akan bisa kita lewati dengan baik jika kita menghadapinya dengan cara yang terbaik;
  2. SEMUA orang yang kita kenal pasti pernah berbohong kepada kita, entah itu kebohongan kecil atau kebohongan besar baik disengaja maupun tidak disengaja. Sudah waktunya kita menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa mengakhiri suatu hubungan hanya karena terbongkarnya suatu kebohongan. Berkacalah kepada diri sendiri… kita juga tidak selalu berkata jujur bukan? Akan tetapi pada akhirnya, hubungan yang paling bahagia adalah hubungan yang dilandasi oleh kejujuran. Maka, mintalah maaf untuk kebohongan yang kita lakukan dan berusahalah sekuat tenaga untuk tetap selalu bersikap jujur;
  3. Terimalah kenyataan bahwa orang yang paling sering menyakiti kita adalah orang yang paling dekat dengan kita. Sebaliknya, orang yang paling sering kita sakiti adalah orang yang paling dekat dengan kita. Siapapun mereka, satu atau beberapa kali mereka akan sangat-sangat menyakiti perasaan kita.  Maka berhentilah mencari seseorang yang akan SELALU membawa kedamaian dalam hidup kita. Terimalah pil pahit bahwa tidak akan pernah ada hubungan yang tidak diwarnai oleh pertengkaran. Akan tetapi, jangan lantas melarikan diri dari cinta dan persahabatan. Orang yang tidak mengusahakan apa-apa juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena faktanya, kebahagiaan itu ada harganya.

 

Meski hidup tidak akan pernah seindah negeri dongeng, percayalah bahwa this life is worth living. Satu tips gue, pastikanlah bahwa kita adalah orang yang mencintai serta layak untuk dicintai. Lalu saat melakukan kesalahan, pastikan bahwa kita adalah orang layak untuk dimaafkan serta sangat ikhlas untuk memaafkan.

 

Akan tetapi sekali lagi, mengingat hidup ini bukanlah fairy tale, ingatlah baik-baik bahwa meminta maaf dan memaafkan tidak berarti kita pasti akan dimaafkan. Berbuat baik pun belum tentu dibalas kebaikan oleh orang-orang yang bersangkutan. Atau yang paling menyakitkan, mencintai tidak berarti balas dicintai. Meski begitu, tetaplah percaya bahwa orang-orang tidak tahu diri itu tidak punya hak untuk merusak kebahagiaan kita! This life is ours, so don’t let them break us down! Cukup bersabar, belajar dari pengalaman, tersenyum, dan kembali pastikan bahwa kita tetap orang yang sangat layak untuk dicintai. Sisanya, biarkan Tuhan mengambil peranan-Nya. Selamat menikmati hidup!

 

MOS SMA, 7 Tahun Yang Lalu…

July 12th, 2009 by riffabanget

Hari ini, Ilham, adik sepupu gue, lagi sibuk bikin name tag buat kegiatan MOS besok pagi. Jadi ceritanya, adik sepupu gue ini baru saja masuk SMA. Dan… aktivitasnya menggunting dan menempelkan karton itu mengingatkan gue sama masa SMA gue sendiri.

Tujuh tahun yang lalu, gue juga pastinya pernah mengikuti kegiatan MOS. Waktu itu, gue dan Cicing, teman pertama gue di SMA 5, sibuk nyiapin berbagai keperluan mulai dari pita merah putih, karton, tali rapia, spidol dan lain sebagainya.

Selain atribut MOS yang identik dengan culun dan aneh itu, ada dua hal yang tidak pernah gue lupakan dari acara MOS SMA: surat cinta untuk salah satu kakak kelas, dan pertemuan pertama gue dengan cowok yang kemudian bolak-balik gue taksir selama tiga tahun di SMA.

Yang pertama, kita bahas dulu soal surat cinta. Please let me hide his name, gue juga kan enggak mau dituduh melakukan pencemaran nama baik;) Gue inget banget di surat cinta yang wajib dibuat oleh semua anak baru itu, gue menulis…

“Saya suka sama kakak soalnya penampilan kakak itu unik. Terutama… sepatu kakak yang mengkilap itu. Saya baru tahu ada orang yang pakai sepatu pantofel ke sekolah. Maksud saya… udah kayak bapak saya kalo mau pergi ke kantor setiap hari.”

Menurut gue saat itu, surat itu lucu dan pasti lain dari yang lain. Baru di kemudian hari gue mengetahui bahwa… sepatu pantofel dipakai ke sekolah itu sesuatu yang sangat wajar. Bahkan, sepatu pantofel jadi atribut wajib buat anggota Pramuka dan Paskibra… Yeah, begitulah dodolnya seorang anak baru SMA yang selama 3 tahun di SMP diwajibkan memakai sepatu warrior berwarna hitam-putih. Tahu kan, sepatu warrior… yang sekarang sering disebut-sebut sepatu Converse itu?

Lupakan soal si kakak kelas bersepatu pantofel, karena setelah itu benar-benar tidak ada kelanjutan apa-apa. Yang ada malah teman baiknya si Sepatu Pantofel yang entah kenapa suka ngelihatin dan sesekali bermanis-manis sama gue, adik kelasnya. Entah gimana asal mulanya, Intan – salah satu teman gue yang paling gila di SMA, menjuluki temannya Sepatu Pantofel itu dengan sebutan si Kelapa Sawit.

Yang masih gue ingat dari Kelapa Sawit adalah pertanyaan dia waktu gue ikut LDKS di Asrama Haji Pondok Gede. Waktu itu gue baru selesai antri mengambil makan siang. Di ujung meja prasmanan, si Kelapa Sawit melempar senyum sama gue, terus bertanya, “Riffa kok makannya sedikit banget? Nanti pingsan lho…”

Waktu itu gue cuma senyum-senyum tanpa menjawab apa-apa, lalu malam harinya, enggak ada angin nggak ada hujan, si Kelapa Sawit sok-sok galak sama gue pas acara jurit malam sedang berlangsung. Waktu dia lagi ngomel, gue membayangkan sebuah pohon kelapa (yang bentuknya mirip dengan pohon kelapa yang biasa gue lihat di pinggir pantai) sedang ngomel-ngomel sambil bertolak pinggang. Waktu itu gue pikir, mungkin Intan kasih dia nama Kelapa Sawit karena tubuhnya yang jangkung dan kurus itu.

Tujuh tahun kemudian alias beberapa bulan yang lalu, saat sedang dalam perjalanan menuju pedalaman Riau, barulah untuk pertama kalinya gue melihat bentuk pohon kelapa sawit itu seperti apa… pohonnya kuntet dengan daun yang menjulur sampai ke tanah. Oh oh… berarti tidak seharusnya gue menjuluki cowok itu dengan sebutan Kelapa Sawit, iya kan?

Well, balik lagi ke topik MOS SMA. Hal ke dua yang tidak akan pernah gue lupakan dari MOS SMA adalah pertemuan pertama gue dengan cowok yang di kemudian hari gue beri julukan si Bolong – lagi-lagi, nama si Bolong ini hasil pemberian Intan dan gue juga enggak pernah tanya kenapa gue dan teman-teman se-gank terus menjulukinya si Bolong, sampai sekarang.

Awalnya, gue benar-benar enggak tahu ada si Bolong di dalam gugus gue. Well, gugus itu semacam kelas sementara selama MOS berlangsung. Gue masih ingat, waktu itu gue dan Bolong tergabung di Gugus 6. Jadi siang itu, sedang dilakukan pemilihan Ketua Gugus 6, dan Bolong adalah salah satu calon yang diajukan oleh teman-teman SMP-nya. Lalu, dengan malu-malu, si Bolong berjalan pelan ke depan kelas. Saat itulah, dari meja gue yang terletak di pojok kanan paling depan, gue pertama kali melihat dan mengenal Bolong.

Waktu itu, saat melihat wajahnya yang masih bersih dan bersinar cerah, dengan polosnya gue berpikir begini di dalam hati, “He is gonna be someone for me, during this high school.”

Dan memang benar, nama Bolong selalu datang dan pergi di diary SMA gue selama tiga tahun lamanya. Beberapa kali gue sempat naksir bahkan cukup dekat dengan cowok lain, tapi tetap saja, selalu ada Bolong di hati gue, sampai akhirnya kelulusan memisahkan gue dan dia.

Jangan juga kamu menanyakan kelanjutan cerita gue dengan si Bolong setelah lulus SMA. Setelah lulus, tidak disangka-sangka akan sangat mudah melupakan dia. Gue mulai asyik sama cowok-cowok Chinese yang gue anggap imut di kampus, yang tentu saja, perbedaan mencolok antara gue dan cowok-cowok imut itu bikin rasa suka gue sama mereka juga tidak pernah terwujud menjadi kenyataan.

Entah kenapa, teman-teman SMA gue enggak pernah ada yang percaya kalo gue bilang gue udah lupa sama si Bolong. Salah gue juga yang terlalu hobi curhat sehingga jangan-jangan, hampir semua orang yang pernah sekelas sama gue juga tahu kalo gue pernah naksir berat sama si Bolong. Tapi bener deh, setelah lulus, segalanya menjadi benar-benar mudah. Malah, gue lupa apa alasannya, gue pernah nulis begini sama si Bolong via SMS beberapa bulan setelah kelulusan, “Tolong ya, elo jadi cowok jangan suka kegeeran!” Selain itu, sejak beberapa tahun yang lalu, gue tidak lagi tertarik dengan ide reuni SMA hanya gara-gara Bolong pernah bilang begini sama gue, “Udahlah Fa, reuninya nanti aja lagi, kalo kita udah pada kangen.”

Hah, emangnya dia pikir gue bikin reuni karena kangen sama dia gitu? Jadi ya sudah, gue enggak perlu lagi repot-repot mengabulkan permintaan reuni dari teman-teman sekelas. Gue toh sekali-dua kali dalam setahun masih suka ketemuan sama teman-teman dekat gue di SMA dulu.

Bagi gue, si Sepatu Pantofel, Kelapa Sawit, Bolong, serta cowok-cowok lainnya itu hanya bagian dari masa lalu yang menyenangkan. Menceritakan mereka di dalam blog, menanyakan kabar mereka sekarang, tidak sama dengan masih suka atau cinta lama bersemi kembali. Malah percaya deh, ketika kamu sudah bisa menulis dan menertawakannya, berarti kamu benar-benar sudah melupakan orang ybs. Dan bagi gue, menertawakan masa lalu adalah hal sangat menyenangkan untuk dilakukan.

So… let us look back and smile! Cheers!

Seventeen Nice Stuffs This Week

June 25th, 2009 by riffabanget

Here we go…

  1. Dapet pujian dari orang yang tidak terduga;
  2. Menertawakan diri sendiri… kenapa dulu pernah tergila-gila sama orang yang aneh banget;
  3. Having special dinner with my families;
  4. Main The Sims 3 dan berkhayal punya pacar seorang dokter, bule, tinggi, ganteng, pinter, baik hati, romantis, setia, penyayang, hahaha… ngarang sepuasnya!
  5. Main sama anak-anak kucing gue yang makin gede makin lucu aja;
  6. Shopping gila-gilaan. Dua tas baru, dua kemeja, dua pasang sepatu, dua bros cantik, terus gue lupa beli apaan lagi;
  7. Borong novel dan menikmati setiap lembar dari novel-novel best seller itu;
  8. Ngegosip via chatting sama Nova, Monyk, Ntep, dan Alex Djong. Acara gosip kita serasa lebih seru daripada infotainment lho;
  9. Devi, an old friend from high school, suddenly called me after several years passed us by;
  10. Diajakin secara keroyokan via chat room sama Dandy, Avi, Dini, dan Icha buat ikut makan di Fish and Co. Ajakan makan siang paling seru yang pernah gue terima;
  11. Berani menolak beberapa hal yang hanya akan menyakiti perasaan gue lagi. They were so much easier than I’ve ever thought.
  12. Ngisi dua tes IQ kemudian saling pamer hasil tes sama Nova, Dandy, dan terakhir sama Avi juga;
  13. Terima telepon dari Mr. Rajesh yang sok-sok-an bisa ngomong pake Bahasa Indonesia;
  14. Nulis novel, perkembangannya udah lumayan. Satu hari satu halaman, 30 hari 300 halaman kan?
  15. Pake high heels dan rok, terus berasa jadi cewek paling keren sedunia deh, hahaha…
  16. Melihat tingkah konyol seorang teman lalu tiba-tiba bersyukur gue pernah dididik keras sama orang tua gue; dan
  17. Absen main Facebook selama dua minggu, dan entah kenapa, masa-masa ini adalah dua minggu terbaik dalam beberapa bulan belakangan ini.

My Best Friend is Pregnant

May 27th, 2009 by riffabanget

Sebetulnya, udah ada banyak banget temen-temen jaman sekolah yang udah married dan punya anak. Waktu reuni SMP aja ada lho yang dateng sambil gendong anak! Waktu gue dkk lagi asyik ngomongin soal skripsi, eh… dia malah ngomongin soal proses induksi waktu mau melahirkan anaknya! Tapi soal mereka udah punya anak, gue nggak terlalu excited. Mungkin karena dulu enggak gitu akrab kali ya…

TAPI, waktu tau sahabat gue dari jamannya masih ingusan lagi hamil tiga bulan, jujur gue ngerasa ada suatu perasaan yang berbeda. My partner in doing stupid things… seorang teman yang gue anggap imut, polos, masih naif dsb… sebentar lagi mau jadi ibu!

Besides… well… pregnancy comes from a long progress right? Jadi rasanya aneh aja waktu tau sahabat gue yang polos itu sudah melewati proses yang panjang itu, hehe…

Padahal sebenernya sejak dikabarin dia mau married ya gue juga udah tau setelah married abis itu hamil. Tapi tetep aja… rasanya pengen senyum-senyum sendiri kalo inget dia yang dulu nggak suka kecentilan ngegebet cowok - kayak gue di masa SMA, hehe - akhirnya malah married duluan dan udah mau punya bayi!

So… congrats buat calon Mami. Dijaga kandungannya baik-baik. Dikasih pantangan sama dokter ya sabar-sabarin aja. Dan… well… kalo anak kamu lahir aku dipanggil tante dong ya? Hihihihi… tante Riffa… gimana kedengarannya? Cocok nggak? Hehe… I wish all the best for you and your baby:)

Kebodohan Semasa ABG

May 22nd, 2009 by riffabanget

Pagi ini, perjalanan gue dalam angkot menuju Cawang ditemani alunan musik dari lagu-lagu terbaiknya Westlife. Supir angkot yang gue tumpangi itu sepertinya ngefans sama si Westlife sehingga dia terus saja memutar lagu-lagu dari boyband itu.

Koleksi lagu Westlife selalu mengingatkan gue sama masa-masa SMP dulu. Masa di mana gue tergila-gila dalam artian yang sebenarnya sama beberapa penyanyi luar negeri. Selain Westlife, masih ada lagi Britney Spears dan M2M.

Pada jaman itu, gue bakal beli majalah atau tabloid apa aja yang menjadikan mereka sebagai cover. Lemari pajangan gue udah penuh sama pernak-pernik berhiaskan wajah mereka. Gue nonton MTV pun cuma buat nungguin video klip terbaru mereka. Bahkan, gue beberapa kali ngotot minta tolong bokap, sodara, tetangga atau siapa aja buat benerin radio gue yang berkali-kali rusak gara-gara kaset yang sering gue puter berulang-ulang itu kusut berantakan. Malah ya, gue suka berkhayal nggak sengaja ketemu sama Britney Spears waktu lagi liburan di luar negeri, terus kita ngobrol-ngobrol, terus gue dan dia mulai berteman akrab sehingga gue juga jadi ikutan ngetop di seluruh penjuru dunia, hehe…

Dan yang paling konyol, gue pernah panik setengah mati waktu beredar gosip Bryan Westlife meninggal gara-gara kecelakaan pesawat. Setelah mendengar kabar itu dari Yantri (adik gue), gue langsung nelepon Kiki, sahabat gue yang (almarhum) bokapnya kerja jadi wartawan di Jakarta Post. Waktu itu dengan polosnya gue berpikir, wartawan itu kan biasanya tau segala-galanya. Pemikiran yang lumayan bodoh mengingat Jakarta Post itu kan bukan koran yang suka bergosip!

Tapi ternyata, Kiki enggak tau soal kecelakaan pesawat yang menimpa si Bryan Westlife. Lalu gue bilang sama Kiki, “Ya udah deh, aku mau nelepon ke majalah Kawanku aja.”

Dan bener aja lho, gue nelepon majalah Kawanku cuma buat nanya apa bener Bryan Westlife udah meninggal!

“Hallo…”

“Hallo Mas, aku mau tanya, aku denger katanya Bryan Westlife baru aja meninggal gara-gara kecelakaan pesawat ya?”

Bukannya jawab, mas-mas yang angkat telepon itu malah ketawa sendirian. Well… dia pasti bingung kok ada cewek kurang kerjaan kayak gue waktu itu… Ini juga suatu tindakan gue yang lumayan bodoh karena bisa aja yang angkat telepon itu cuma satpam, secara gue nelepon ke sana selepas Maghrib gitu…

“Iya Mas… bener nggak sih gosip itu?”

Si mas-mas ngejawab begini, “Wah, enggak tau tuh… Belum pernah denger.”

“Oh gitu… Kalo misalkan bener dia udah meninggal nanti tolong dimuat di majalah ya Mas!”

“Wah… kita kan majalah hiburan masa’ masukin berita yang sedih-sedih?”

“Oh… gitu ya…”

“Barusan juga ada lho orang yang nelepon ke sini nanyain Bryan Westlife.”

Wah, ternyata bukan cuma gue doang lho yang kurang kerjaan ngurusin si Bryan Westlife! “Oh ya udah deh, makasih ya Mas!”

Nggak lama setelah telepon gue tutup, telepon itu berbunyi nyaring. “Hallo…”

“Hallo, Fa,” ternyata dari Kiki. “Tadi aku udah nelepon ke Kawanku katanya mereka enggak tau Bryan Westlife udah meninggal apa belum.”

Hihi… gue suka malu sendiri kalo inget kejadian waktu itu. Tapi ternyata pertanyaan gue dan Kiki itu ada gunanya juga lho. Majalah Kawanku edisi minggu berikutnya memuat berita Bryan mengalami kecelakaan pesawat dan sempat diisukan meninggal, padahal sih, dia cuma cedera sampai harus duduk di atas kursi roda… Sebut gue konyol, tapi waktu baca itu gue ngerasa lega banget seolah-olah si Bryan itu kerabat gue atau gimana, hehe.

Satu kekonyolan lain yang gue perbuat sewaktu masih jadi ABG yang tergila-gila sama penyanyi luar negeri adalah gue benci sama Christina Aguilera hanya karena Britney Spears musuhan sama penyanyi cewek yang satu itu. Yang lebih konyol lagi, gue inget banget pernah nulis begini di buku harian gue…

Gue sebel sama Nunung (temen SMP gue) karena:

  1. Dia suka sok pinter dan nganggep bego orang yang lebih bodoh daripada dia (alias gue, hehe);
  2. Dia bertemen deket sama cowok yang gue suka; dan
  3. Dia NGEFANS sama Christina Aguilera!

Haha, sampe sekarang gue masih bingung ngepain juga gue musuhin orang yang ngefans sama Christina Aguilera? Lucunya, bertahun-tahun kemudian gue malah suka muter lagu-lagunya Christina Aguilera di MP3 player komputer gue, hehehe…

Jadi menurut gue, jokes yang paling bisa bikin kita ketawa geli adalah segala kebodohan yang pernah kita perbuat di waktu yang lalu. Nggak usah lah bawa-bawa jamannya kita baru gede, sekarang juga kita masih suka melakukan stupid mistake toh? Misalnya gue… Satu bulan yang lalu gue pernah dengan konyolnya curhat kayak orang mau mati via notes Facebook, terus gue tag semua temen-temen deket gue supaya mereka tau kalo gue lagi sedih! Rasanya gue pengen banget ngapus notes itu, tapi masalahnya, meskipun konyol, dukungan yang gue terima gara-gara notes itu bikin gue bisa bener-bener move on hanya dalam hitungan hari! Canggih kan, hehe…

Well, everybody makes mistake, so why don’t you look back and laugh it all? Trust me, you will feel much better if you do. Selamat tertawa!

Diary Semasa SMA

May 2nd, 2009 by riffabanget

Dalam tulisan kali ini, gue akan membagi isi diary kenangan gue waktu SMA. Isinya lucu, mengharukan, dan bikin gue jadi kangen banget sama mereka semua. Dibaca yaa! Siapa tau elo juga udah pada lupa dan bakalan senyum-senyum dengan apa yang pernah elo tulis di dalam diary gue itu… Semua tulisan dalam blog ini sama persis dengan tulisan aslinya, tanpa sensor, tapi tentunya udah gue kurangin jumlahnya supaya muat buat ukuran blog. Selamat menikmati!

Gerry

Sharief (terkadang Sarip) itu…

  • Aneh banget
  • Suka sama orang yang aneh pula
  • Tiang listrik
  • Nge…jengkel…in banget
  • Kalo mau tidur lucu… di kelas maksudnya
  • Suka ngeledekin gue ‘biscuit cracker’
  • Gak qanaah

Dari Radhianty

Kalo kata gue, Riffa itu…

  • Cerewet banget kaya’ nenek gue
  • Anaknya manies (tapi sayang masih manisan gue)
  • Ketawanya aneh
  • Pinter
  • Suka banget ceramahin gue
  • Sok tua
  • Galak
  • Dan yang pasti Riffa itu baek ma’ gue.

Riffa itu anaknya asyik dan perhatian ma’ temen. Udah berkali-kali dia kasih jalan keluar setiap gue punya masalah. Misalnya masalah gue sama xxx. Dia rela nanya langsung ke xxx walau sebenernya dia nggak pernah akur sama xxx. Tapi untuk gue, dia rela nyingkirin rasa enggan sehingga akhirnya gue memperoleh suatu jawaban.

Giancana

Riffa itu orangnya:

  • Lucu
  • Jutex
  • Jarang mingkem
  • Suka tolak pinggang k’lo marah
  • Suka makan (tapi kok nggak gemuk2 yah, cacingan kali)
  • Wawasan lumayan luas
  • English was excellent for high school.

Gais

Opini buat Riffa:

  • Orangnya baik
  • Lucu kayak jerapah
  • Jarang mingkem, cerewet, jutek
  • Bendahara… yang galak kalo nagihin kas
  • Klo marah suka tolak pinggang
  • Cw pink
  • Punya panggilan ngetop: Cinta… Rangga-nya si Bom2.

Menurut gue, Riffa itu tuch termasuk salah satu org yg antique di kls Soz 5.

Yuli Supriatin

Pesen gue: Tambahin sedikit lagi berat badan biar nggak kaya orang2an sawah.

(Notes from Riffa… di bawah tulisan itu, si Yuli ngegambar-orangan sawah yang lucu banget, hehe.)

Rudi Junaidi alias Junet

Opini buat loe…

  • Riffa itu pelupha
  • Baek & nggak pelit
  • Cerewet
  • Kadang2 jutek
  • Tukang ceramah
  • Cantik

Sering-sering ajak gw ke rumah loe ya… buat nonton. Jangan lupa sediain makanan enak buat cucu raja yang satu ini. Oh ya, kalo minjem something dari person don’t lupa dibalikin, kasian orang yang minjemin. Terus jangan lupa sama gw dan jangan berubah, tetep jadi diri loe yg sekarang.

The end of note… Rudi J. Jr. & Theresia – sekretaris

(Notes from Riffa: Ini betulan lho, si Junet ngisi diary gue pake sekretaris segala. Soalnya tulisan Junet itu lebih JELEK daripada tulisan gue. Bayangkan betapa jeleknya, haha!).

Devi

Riffa itu banyak ngemil tapi tak gendut ya!!

Bahri

Opini gue…

  • Elo keseringan ngaca! Padahal pd aja kali!
  • Sedikit nggak percaya sama temen sendiri
  • Sering ikut-ikutan ngeledekin gue.

Leoni

Opini about Riffa

Things I like about you:

  • Smart
  • Independent woman
  • Baik banget sama gw
  • Generous
  • Sweet girl
  • Feeling-nya kuat, plus bisa baca karakter orang
  • Gape banget B. Inggrisnya
  • Good lisetener ‘bout my sad story, good advisor juga dari jamannya si ‘T’ sampe si ‘R’
  • Suka bgt baca

Negative things about you:

  • Fussy
  • Kadang jutek
  • Kalo lg marah, nyebelin! (Tp untungnya lo ga pernah marah ma gw)
  • Rada boros x yee…
  • Kayaknya suka lupa sama gw

Btw, elo blm nyobain pudding bikinan gw, tar gw bikinin deh pas ultah loe! Dijamin loe pasti pengen lg! Hehehe…

(Notes from Riffa: dan emang bener, waktu pesta ultah gue yang ke 17,Leon bikinin gue one round of pudding!).

Intan

Menurut gw, Uler itu baix, cerewet, so’ sibuk hehe… paling tinggi di dlm gank, suka member advice, sama orang suka jutek tp sama gw nggak, rada genit, paling suka dengerin curhat temen, sangat berpegang teguh pada prinsip.

Uler, gw harap agar q-ta selalu menjaga & mengingat our gank “WeBe” untuk selamanya oc.

Nitya

My Opinion About U:

  • Cerewet kayak nenek2
  • Pelupa kayak nenek2
  • Ketawa lu aneh (kayak nenek2) lebih tepatnya kayak nenek sihir
  • Sometimes u look sweet too, but just sometimes… he… he…
  • Can speak English very2 well
  • Shalatnya masih bolong2 ya!
  • Klo lagi bete, jadi jutek! Hii… sereeem…
  • Pengambil keputusan yang cepat, tapi kadang terlalu cepat
  • Mandiri
  • Baik n gak pelit
  • Suka member advice, tapi kadang terlalu banyak ngasih advice
  • Bagus dalam hal menganalisa orang
  • Dandan melulu
  • Asik lah pokoknya

Ridwan

Sarip itu manis kayak gula jawa

Sarip itu pinter kayak computer Pentium IV

Sarip itu orangnya cantik… pasti banyak cowok yang love pada loe.

Perasiska alias Vera

Hi Miss Pink! Opini gw about “u”

  • Sok dewasa (dewasa alias tua gitu)
  • Cereweeet… banget
  • Suka dandan
  • Very100x bawel in the gank
  • Care sama temen
  • Romantis banget (buatin gw puisi lagi donk!)
  • Cepet panik
  • Boros banget
  • Kalo lagi jutek nyebelin
  • Kalo nolongin temen nggak tanggung-tanggung
  • Rada2 genit
  • Nggak pelit dst…

Riani Kuntala alias Ririn

Memory…

Waktu 1st time ke Riffa’s home… uh seru! Gua bisa lihat kucing, monyet, ayam, anjing, tukang bakso dll… Soalnya waktu gua tinggal di Istana di Holland gua nggak pernah liat yang seperti itu.

Terus Riffa itu…

  • Baik banget, care and smart
  • Always give me solution about agama
  • Suka minjemin majalah dan komik (sayangnya harus pake syarat: NGGAK boleh lecek, dilipet, basah, dsb…)
  • Manis, putih dan berwibawa (ceu ileh…)

Sayadi

Riiffa itu orangnya tinggi, lucu, sering nagih duit. Pinter banget Bahasa Inggris (kalau lagi UAN gw nyontek ya!).

Dedi Maulana

Riffa itu:

  • Tampangnya judes des pedes
  • Bahasa Inggrisnya sip deh
  • Klo ngomong kadang pernah nyakitin
  • Puisinya bagus juga, walaupun gw nggak ngerti
  • Posturnya “cukup” tinggi
  • Pink-nya nggak pernah ketinggalan
  • Suka nolong gw
  • Boros kali ya
  • Nulis melulu

Muh. Yani

Riffa, When life gives you a thousand reason to cry, show that you have a million and one reason to smile. Keep smiling and enjoy your life no matter how hard it may seem.

Krista… yang menyebut dirinya sebagai Miss Chuby Sos 5

Positive and Negative:

  • Pinter, apa lagi English-nya okeh banget
  • Tinggi banget kayak pohon bamboo
  • Cakep sich!
  • Kayak peramal, semuanya serba tahu!
  • Kalo ketawa… mukanya lucu banget!
  • Cepet panik
  • Cepet marah
  • Bentar2 ngaca melulu

Triana

Riffa is… cool, confident, good in English, sweety, noisy, smart, pretty.

Dan pastinya, cerewet banget kalo nagihin uang kas! Money, money, money!

Heni

Riffa itu orangnya…

  • Baek
  • Smart
  • Kaya’ tiang listrik
  • Cas-cis-cusnya jago
  • Punya ide2 yg ok banget!
  • Cocok jadi penceramah
  • Ga jelas kalo lagi suka ma cowo;’
  • Maniez
  • Anaknya asyik dan seru
  • Panikan, darah tinggian…
  • Rada centil.

Eki

Memory tentang Chiriffa

  • Waktu ke rumah Riffa di Anyer asyik banget, seru, gokil. Waktu itu gw sempet mecahin gelas (sorry tante) terus malemnya kita nyanyi dipandu Saldi yang suaranya serek-serek becek buat bokapnya Riffa yang lagi ultah (happy birthday om!). Setiap pagi kita ke pantai, bermain ombak, ngumpulin kerang, main PS sama adek2 lo, main bola sampe sandal gw putus terus bikin acara nominasi “Yang Ter…” Pokoknya gila-gilaan! Rumahnya emang kecil, tapi gw justru ngerasa luas (bener lho) karena kebersamaa kita semua.
  • Gw seneng main ke rumahnya Riffa soalnya banyak makanan, hehe…
  • Waktu elo ultah 17, gw nyanyiin lagunya SID. Btw, adeklo yang cantik itu liat gw nyanyi nggak ya? Hehe…

Lalu beberapa hari menjelang kelulusan, diary itu gue akhiri dengan tulisan berikut ini:

Ternyata hidup itu memang complicated. Kadang2, apa yg gue lihat ‘baik’, justru jadi bumerang buat gue. Sebaliknya, sesuatu yg tampak ‘buruk’ malah membawa kebaikan dan kekuatan u/ gue. So… gue jadi sadar, gue masih harus banyak belajar. Mungkin, gue harus menghapus & mengoreksi cara pandang gue bahwa gue udah cukup peka dan dewasa. Intinya, gue harus terus memperbaiki diri.

Gue tahu itu nggak gampang. Tapi berkat tulisan2 luar biasa dalam buku ini, gue jadi tahu dari mana gue harus mulai melangkah. Karena kini, mata gue jadi terbuka lebih lebar plus lebih mengenali diri gue sendiri. Seenggaknya, gue jadi bisa memilah mana yg harus gue pertahankan & mana yg harus gue rubah.

Semua ini enggak lepas dari kejujuran teman2 semua ttg diri gue yg sebenar2nya. Nggak ada istilah sakit hati kalau itu memang suatu fakta.Jadi, gue ucapkan thanks sebesar-besarnya. Thanks juga udah mengingat semua memori tenntang kita semasa SMA.

Mungkin, elo semua enggak akan pernah membaca tulisan ini. Tetapi, doa gue akan selalu menyertai teman-teman semua yang sangat gue banggakan dan akan selalu gue kenang. Harapan gue, kalau suatu saat kita bertemu lagi, kita sudah mempunyai sesuatu yang bisa kita banggakan nanti.

Ok, ini aja dari gue… Terakhir tapi bukan yg paling akhir, “KITA ADALAH SAHABAT.”

Love – Riffa Syarifah Sancati.

India Versus Jawa

April 27th, 2009 by riffabanget

Hari ini, ada satu lagi kejadian dodol yang gue alami.

Ceritanya hari ini gue, Mbak Del, Kak Monyk, dan Alex balik lagi ke klien kita yang di Cibitung. Lalu tadi, sementara gue, Del, dan Monyk lagi bikin working paper di lantai satu, si Alex ditugasin buat nagih data ke ruangan manajer dan asisten manajer di lantai dua.

Belasan menit sudah berlalu tapi Alex belum juga balik dari lantai dua. Tiba-tiba, dia malah nelepon Mbak Del pake hp-nya. Tapi entah kenapa, Mbak Del kelihatan bingung sama omongannya Alex. Akhirnya, karena dia enggak ngerti si Alex ngomong apaan, Mbak Del minta gue buat gantian ngomong sama si Alex.

“Hallo, Lex, ada apa?”

“Bla bla bla… rampung iki?”

Lho, si Alex kenapa ngomong pake bahasa Jawa. “Lex… ini Riffa, kenapa lo ngomong pake bahasa Jawa?”

“Iya, tau… bla bla bla…” dia ngomong Jawa lagi.

“Hei, I don’t understand you. What’s wrong?”

Bukannya jawab, Alex malah ngomong entah apa dan akhirnya telepon itu dia tutup begitu aja.

Lalu kata Monyk, mungkin si Djong pengen nyampein sesuatu yang rahasia sehingga terpaksa ngomong bahasa Jawa. Soalnya, kalo ngomong pake bahasa Inggris atau bahasa Indonesia takutnya kedengeran sama dua klien kita yang dua-duanya orang India asli itu. Akhirnya, gue pun diminta naik ke lantai 2 buat menemui Alex.

Pas sampe di atas…

“Lex, elo tadi kenapa sih?” tanya gue begitu Alex keluar dari ruangan si orang India.

Si Alex malah ketawa-tawa. “Tadi tuh gue sengaja ngomong Jawa. Abisnya gue sebel, dari tadi mereka berdua ngomong pake bahasa India melulu! Jadi ya gue bales aja ngomong sama elo pake bahasa Jawa biar gantian mereka yang bingung, hahahaha…”

Fuh… beginilah akibatnya kalo punya temen sekantor yang super aneh, hehe…